Langsung ke konten utama

Membumikan Islam Melalui Tulisan

 


Oleh : Rizki Winanti

Islam akan tersebar ke penjuru dunia  jika ada yang mensyiarkan. Cara mensyiarkan islam adalah dengan berdakwah. Namun berdakwah bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Menyampaikan dakwah di tengah umat  harus punya strategi yang tepat. Terkadang manusia suka merendah sebelum bertindak, rasa insecure  kerap melanda membuat rasa tidak percaya diri muncul secara spontan. Ditambah lagi merasa diri serba kurang, ilmu belum cukup luas, dan keberanian masih dibawah rata-rata. Usahakan berbicara di atas mimbar, berbicara di depan banyak orang saja masih gemetar, seketika mulut kaku untuk berucap.

Kendala dalam berdakwah pasti ada, tidak dapat dipungkiri bahwa berdakwah harus butuh kesiapan wawasan dan mental. Tapi kalau hanya berpatokan pada kesiapan, lalu sampai kapan akan berdakwah? Apa nunggu sampai malaikat izrail datang? Melihat kondisi umat muslim saat ini, apakah kita masih tetap diam? Sementara kedzoliman sudah di depan mata. Naluri mana yang tidak akan meronta, melihat saudara seiman dibantai, agama dilecehkan, dan syariat diabaikan.

Ketika naluri sudah merangsang, maka diri semakin ingin membela. Menggaungkan kebenaran yang sudah mulai tertutup rapat. Sebagai pemuda islam, perjuangan akan tetap dilanjutkan. Risalah Rasulullah akan tetap tersebarkan. Berdakwah tidak hanya dengan lisan, tapi juga bisa melalui tulisan. Jika kemampuan public speaking rendah, bukan menjadi alasan untuk tidak berdakwah. Menulislah untuk berdakwah, dan rangkailah kata dengan indah. Sampaikanlah amar ma’ruf dengan tulisan yang berkualitas, sehingga membuat pembaca menjadi terpukau. Mungkin sebagian mengganggap jika berdakwah melalui tulisan kelihatan biasa saja, tapi efeknya bisa menembus pemikiran jutaan manusia.

Dalam menulis bukan harus nunggu punya bakat, akan tetapi harus punya kemauan untuk belajar. Menulis tidak sesulit yang di bayangkan, tulisan yang indah tidak akan mungkin teralisasikan tanpa adanya latihan. Jika dengan alasan tidak terbiasa merangkai kata melalui tulisan, maka harus dicoba mulai dari sekarang. Semua itu diawali dengan kebiasaan (habits)  lalu menjadi terbiasa dan lama-lama menjadi bisa. Dari menulis banyak mendatangkan manfaat, salah satunya adalah dengan menulis kita bisa mensyiarkan islam yaitu dengan mendeskripsikan tentang keindahan islam, kedamaian umatnya dan kemaslahatan syariatnya. Luar biasa bukan?

Karya tulis tidak akan pernah usang ditelan zaman, karena tulisan akan abadi sepanjang masa. Kita tidak akan pernah tahu tulisan mana yang akan membuat orang berubah dan bertaubat. Maka dari itu teruslah menulis untuk menebar kebaikan, meski dengan permainan kata, kita tetap bisa berdakwah. Karya tulis juga bisa menjadi amalan jariyah, walau Sang Penulis telah wafat, karyanya akan tetap abadi dan mengalirkan pahala. Ketahuilah, jika Islam tegak karena dua senjata, yaitu darah para syuhada dan tinta para ulama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Berpendidikan

Oleh : Rizki Winanti           Wanita yang berpendidikan tinggi bukan untuk menyaingi para lelaki, akan tetapi mempunyai peranan penting dalam mendidik generasi.Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim, tanpa membedakan antara wanita dan laki-laki. Tidak heran jika wanita sering mendapatkan diskriminasi ketika ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Meski kodrat wanita akan menjadi ibu penggurus rumah tangga, tetapi bukan berarti tidak pantas untuk menempuh pendidikan sampai tingkat universitas. Miris melihat realita masa kini, dimana wanita dibatasi dalam menuntut ilmu. Dan dianggap akan membuang uang secara percuma jika nantinya menjadi ibu rumah tangga, yang ujung-ujungnya akan menggurus urusan dapur, sumur dan kasur.          Pemikiran dari barat semakin mendoktrin wanita muslim,dimana wanita tidak boleh memiliki wawasan dan pengetahuan luas. Dari sini dapat kita lihat, jika strategi barat adalah merusak wani...

Ramadhan Bulan Tarbiyah

Oleh : Rizki Winanti Ramadhan telah tiba membawa limpahan keberkahan bagi setiap makhluk di alam semesta. Pada bulan Ramadhan segala amalan baik yang dilakukan oleh manusia akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah Ta’ala. Esensi  dari hadirnya bulan Ramadhan bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, akan tetapi Ramadhan sebagai bulan Tarbiyah. Kata Tarbiyah berasal dari bahasa Arab yang berarti pendidikan. Dari segi kebahasaan, Tarbiyah memiliki makna mendidik, mengasuh, menumbuhkan,memelihara dan mengajarkan etika sopan santun. Sedangkan menurut Imam Ghazali, Tarbiyah sebagai kegiatan pengajaran dengan tujuan menanamkan kebajikan dan mendekatkan diri kepada Allah Subhana Wata’ala. Lalu mengapa bulan Ramadhan dikatakan sebagai bulan Tarbiyah? Ramadhan adalah bulan pendidikan yaitu mendidik manusia agar menjadi muslim sejati. Hakikat dari terbentuknya muslim sejati adalah muslim yang melakukan segala aktivitas (perbuatan) hanya berlandaskan dengan keimanan yang diorientasi...

[CERPEN] Antara Hijab dan IBu

 Oleh : Rizki Winanti (Cerpen ini sebelumnya telah terbit di blog Kreasi Literasi 'https://kreasiliterasi bpp. blogspot.com/2022/03/cerpen-antara-hijab-dan-ibu.html?m=1' pada tanggal 24 Maret 2022)                                 Natasya merupakan anak sulung dari tiga bersaudara.Ayahnya seorang tukang becak dan Ibunya berkerja sebagai pembantu rumah tangga. Setelah tamat dari bangku SMA, Natasya memutuskan untuk berhijab. Sungguh malang nasib Natasya, dikarenakan Ibunya tidak menyukai jika ia menggunakan hijab. Bukan tanpa alasan, Ibu Natasya sangat terobsesi untuk menjadikannya sebagai model dari brand  produk ternama, dimana ia harus menanggalkan hijabnya. Natasya sangat terpukul mengetahui kenyataan ini. Disatu sisi menutup aurat adalah  kewajiban bagi seorang wanita ketika sudah baligh, dilain sisi ada Orang tua yang harus dihormati dan dipatuhi. Natasya hampir pasrah dan putus asa, ...