Islam akan tersebar ke penjuru dunia jika ada yang mensyiarkan. Cara mensyiarkan islam adalah dengan berdakwah. Namun berdakwah bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Menyampaikan dakwah di tengah umat harus punya strategi yang tepat. Terkadang manusia suka merendah sebelum bertindak, rasa insecure kerap melanda membuat rasa tidak percaya diri muncul secara spontan. Ditambah lagi merasa diri serba kurang, ilmu belum cukup luas, dan keberanian masih dibawah rata-rata. Usahakan berbicara di atas mimbar, berbicara di depan banyak orang saja masih gemetar, seketika mulut kaku untuk berucap.
Kendala dalam berdakwah pasti ada, tidak dapat dipungkiri bahwa berdakwah harus butuh kesiapan wawasan dan mental. Tapi kalau hanya berpatokan pada kesiapan, lalu sampai kapan akan berdakwah? Apa nunggu sampai malaikat izrail datang? Melihat kondisi umat muslim saat ini, apakah kita masih tetap diam? Sementara kedzoliman sudah di depan mata. Naluri mana yang tidak akan meronta, melihat saudara seiman dibantai, agama dilecehkan, dan syariat diabaikan.
Ketika naluri sudah merangsang, maka diri semakin ingin membela. Menggaungkan kebenaran yang sudah mulai tertutup rapat. Sebagai pemuda islam, perjuangan akan tetap dilanjutkan. Risalah Rasulullah akan tetap tersebarkan. Berdakwah tidak hanya dengan lisan, tapi juga bisa melalui tulisan. Jika kemampuan public speaking rendah, bukan menjadi alasan untuk tidak berdakwah. Menulislah untuk berdakwah, dan rangkailah kata dengan indah. Sampaikanlah amar ma’ruf dengan tulisan yang berkualitas, sehingga membuat pembaca menjadi terpukau. Mungkin sebagian mengganggap jika berdakwah melalui tulisan kelihatan biasa saja, tapi efeknya bisa menembus pemikiran jutaan manusia.
Dalam menulis bukan harus nunggu punya bakat, akan tetapi harus punya kemauan untuk belajar. Menulis tidak sesulit yang di bayangkan, tulisan yang indah tidak akan mungkin teralisasikan tanpa adanya latihan. Jika dengan alasan tidak terbiasa merangkai kata melalui tulisan, maka harus dicoba mulai dari sekarang. Semua itu diawali dengan kebiasaan (habits) lalu menjadi terbiasa dan lama-lama menjadi bisa. Dari menulis banyak mendatangkan manfaat, salah satunya adalah dengan menulis kita bisa mensyiarkan islam yaitu dengan mendeskripsikan tentang keindahan islam, kedamaian umatnya dan kemaslahatan syariatnya. Luar biasa bukan?
Karya tulis tidak akan pernah usang ditelan zaman, karena tulisan akan abadi sepanjang masa. Kita tidak akan pernah tahu tulisan mana yang akan membuat orang berubah dan bertaubat. Maka dari itu teruslah menulis untuk menebar kebaikan, meski dengan permainan kata, kita tetap bisa berdakwah. Karya tulis juga bisa menjadi amalan jariyah, walau Sang Penulis telah wafat, karyanya akan tetap abadi dan mengalirkan pahala. Ketahuilah, jika Islam tegak karena dua senjata, yaitu darah para syuhada dan tinta para ulama.

Komentar
Posting Komentar